Mendukung Adik Saya Membeli Rumah Pertamanya
Urgensi
Beranjak dewasa, apalagi sebagai perantau, rumah tentunya menjadi hal yang penting untuk dipikirkan. Bertahun-tahun mengontrak rumah sungguh terasa kurang menguntungkan karena bagaimana pun tempat tersebut bukan milik sendiri. Jika kita membeli rumah yang sesuai dengan kemampuan kita, meskipun kecil, rasanya pasti lebih menyenangkan. Maka itu kami mendorong adik bungsu kami untuk mengusahakannya sejak usia muda. Mumpung belum menikah. Supaya dia tidak menghabiskan uangnya untuk hal yang kurang penting.
Hmm, kok terdengar seperti memaksa ya? Ya, memang agak memaksa. Mengingat gajinya tidak banyak dan dia merokok. Dia hanya lulus SMA dan enggan untuk lanjut kuliah jadi kami agak khawatir. Menyicil KPR akan memaksanya menyisihkan uang. Dengan KPR subsidi, cicilan rumahnya tidak akan jauh berbeda dengan biaya sewa rumahnya sekarang, dan dia akan lebih tenang di masa depan karena tidak khawatir sewaktu-waktu sewa naik atau pemilik rumah memutuskan untuk tidak meneyewakan rumah lagi.
Proses Awal dan Hambatan
Setelah mengecek lokasi rumah dan memastikan semua aman, adik saya memutuskan untuk membayar booking fee dan mulai memproses dokumen-dokumen pembelian rumah. Proses ini dibantu oleh salah satu sales person perumahan tersebut.
Ternyata, proses ini memakan waktu cukup lama karena adanya kendala yang cukup mengkhawatirkan. Satu hal ini ternyata luput dari perhatian kami: skor kredit. Saya merasa sudah mengingatkan dia mengenai pinjol dan kartu kredit, namun ternyata entah dia tidak mendengarkan atau saya memang lupa memperingatkannya. Adik saya memakai Paylater. Paylater itu sudah lunas sejak lama katanya, maka dia percaya diri bahwa skor kreditnya bagus. Namun, tak disangka dia melewatkan 1 rupiah yang belum terbayar.
1 rupiah itu memang angka yang sangat kecil dan biasanya tidak akan dihitung jika kita belanja di warung biasa. Namun, ternyata dalam transaksi perbankan, tunggakan sekecil apapun tercatat dalam riwayat kredit dan perlu waktu sampai datanya diperbarui.
![]() |
| Proses akad kredit |
Hasil Jerih Payah
Puji Tuhan, pada akhirnya masalah itu dapat diselesaikan dan akhir yang diharapkan datang juga. Pada 13 Juni 2026 lalu adik saya resmi menjadi debitur KPR ini.
Punya utang kok senang ya? Mungkin itu yang ada di pikiran banyak orang. Namun, untuk memulai ini tidak mudah. Bank sebagai kreditur juga harus menilai kemampuan orang untuk membayar. Jadi ini tidak sekadar berutang. Ini langkah yang diperhitungkan secara cermat untuk masa depan. Bagaimana hasil dari jerih payah tidak bocor dan bisa menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan.
Ini adalah rumah pertamanya. Saya harap ini adalah langkah awal untuk pencapaian-pencapaiannya yang lain dan kelak dia bisa membeli rumah-rumah yang lebih besar untuknya dan keluarganya di masa depan yang sejahtera.
Semoga rumah ini menjadi tempat lahirnya banyak kenangan indah, penuh damai, penuh berkat dan menjadi awal perjalanan hidup yang lebih baik.
Selamat ya, Dik. Mari bersyukur dan rayakan pencapaianmu ini!
![]() |
| Ini rumahnya. Semoga penuh berkat ya |
![]() |
| Akhirnya. Rumah pertamamu sendiri! |




Post a Comment for "Mendukung Adik Saya Membeli Rumah Pertamanya"
Post a Comment